Empat Tahap Perkembangan E-commerce Indonesia Masih di Bawah

Posted by: Administrator | 30/01/2020 | Kategori: Teknologi | 196 kali dibaca | Rating: 92

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski di Indonesia sudah ada banyak pemain di ranah e-commerce, kontribusi kanal online terhadap keseluruhan ritel di Tanah Air ternyata masih kecil, hanya sekitar 1 persen.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wiwy Sasongko selaku Executive Director of Retailer Vertical Nielsen Indonesia ketika berbicara di acara peresmian BlibliMart di Jakarta, Rabu (28/1/2020).

Dia mengontraskan e-commerce Indonesia dengan negara lain yang sudah lebih maju soal ini. "Kita lihat di China dan Korea (share e-commerce) sudah mencapai 20%. Masih sangat jauh sekali evolusi kita," kata Wiwy.

Menurut Nielsen, Indonesia masih berada di tahap bawah dalam tahapan "Revolusi Ritel Digital" e-commerce. Negara-negara berkembang memang berada dalam kategori "Digital Retail 1.0" ini, termasuk yang berada di wilayah Amerika Latin dan Asia Tenggara.

Selain kontribusi e-commerce yang masih rendah terhadap ritel keseluruhan, kendala lainnya bagi negara yang masih dalam tahap Digital Retail 1.0 antara lain persoalan internet, pembayaran, dan logistik yang masih belum memadai.

Sebenarnya negara maju pun belum tentu berada di tahapan lebih tinggi dalam kategorisasi Neilsen ini. Di Jepang, Eropa, dan Taiwan pun, share e-commerce masih rendah, di bawah kisaran 10 persen.

Tantangan yang dihadapi oleh negara-negara ini bukan persoalan infrastruktur lagi, tapi lebih kepada strategi meraih profit dan menerapkan diferensiasi, hingga menjaga loyalitas pelanggan.

Negara-negara yang paling maju dalam Revolusi Ritel Digital, menurut Nielsen, adalah Korea dan China, lebih spesifiknya kota Seoul dan Shanghai.

Meski masih di bawah, Indonesia punya peluang untuk terus berkembang. Sebab, negara yang berada di tahap awal Revolusi Ritel Digital memiliki pertumbuhan yang tinggi, di atas 50 persen.

"Mudah-mudahan kita juga bisa mengejar pasar-pasar diluar negeri yang lebih maju daripada Indonesia," pungkas Wiwy.

Nielsen sendiri memiliki kantor yang tersebar di 100 negara. Dengan begini, lembaga riset itu dapat memantau perkembangan dan melakukan perbandingan perkembangan e-commerce antar negara.

Penulis: Kevin Rizky Pratama | Editor: Oik Yusuf

Sumber: tekno.kompas.com

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


Category


Top Articles

Bisnis penyewaan menara telko masih menjanjikan

by: Administrator | 11 February 2018

Steve Jobs APPLE

by: Administrator | 07 August 2017

Melihat Kembali Geliat Adopsi 5G di Indonesia

by: Administrator | 11 December 2018

Mengintip Strategi XL Kembangkan IoT untuk Industri 4.0

by: Administrator | 05 December 2018

Five Companies Using AI to Fight Coronavirus

by: Administrator | 20 March 2020

Ambisi Telkomsel Boyong 5G di Ibu Kota Negara Baru

by: Administrator | 27 September 2019

Implementasi 5G di Indonesia

by: Administrator | 03 September 2019

Kisah Startup yang Mengubah Sistem Pembayaran di Dubai

by: Administrator | 30 January 2020

New Articles

Five Companies Using AI to Fight Coronavirus

by: Administrator | 20 March 2020

Kisah Startup yang Mengubah Sistem Pembayaran di Dubai

by: Administrator | 30 January 2020

Apple Academy Indonesia Luluskan 194 Developer

by: Administrator | 15 January 2020

Sisi Gelap 5G Bisa Mengancam Individu dan Negara

by: Administrator | 08 January 2020

Tak Percaya Google Facebook Bikin OS Pengganti Android

by: Administrator | 24 December 2019

Indonesia Diprediksi Gulirkan 5G Tahun 2025

by: Administrator | 19 December 2019