Mengenal Jaringan Kabel Bawah Laut Jalan Tol Internet Dunia

Posted by: Administrator | 12/10/2020 | Kategori: Teknologi | 70 kali dibaca | Rating: 72

KOMPAS.com - Pekan lalu, salah satu jaringan kabel bawah laut internasional yang dijuluki Asia-America Gateway ( AAG), dikabarkan tengah menjalani pemeliharaan darurat.

Pemeliharaan tersebut berlangsung selama kurang lebih 6 hari, mulai dari 25 - 30 September kemarin.

Akibatnya, penyedia layanan internet (ISP) yang memanfaatkan sistem tersebut, seperti AT&T, Telstra, PLDT, dan lain sebagainya, bakal mengalami penurunan kecepatan koneksi internet untuk browsing atau streaming.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kabel internet bawah laut? Mengapa bisa memperlambat performa internet apabila rusak/sedang diperbaiki?

"Jalan tol"

internet Sederhananya, kabel bawah laut ini befungsi seperti semacam jalan tol internet yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya.

Jalan tol ini lantas dipakai sebagai jalur untuk mentransmisikan data dari satu tempat ke tempat lainnya lewat internet. Data tersebut bisa berbagai macam bentuknya, seperti e-mail, lagu yang sedang diunduh, video YouTube yang sedang ditonton, dan sebagainya.

Artinya, wajar saja apabila jalan tol tersebut sedang rusak atau sedang dalam pemeliharaan, maka proses transmisi data pun akan terganggu.

Jumlah beban lalu-lintas data yang tadinya lewat di kabel itu, didistribusikan ke kabel (jalan tol) lain, sehingga lalu-lintas menjadi lebih sesak dan terhambat.

Kabel bawah laut AAG yang kemarin diperbaiki sendiri merupakan satu dari sekian banyak sistem kabel jaringan bawah laut, yang melintas antar-kawasan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data dari TeleGeography yang dilansir Inquirer dan dikutip KompasTekno, Sabtu (2/10/2020), ada sekitar 406 kabel bawah tanah yang melintas di seluruh penjuru dunia, dengan panjang sekitar 1,2 juta km.

Selain AAG, Indonesia juga dilintasi dengan beberapa sistem jaringan kabel bawah laut lainnya.

WiFi andalkan kabel bawah laut

Satu hal yang menarik, koneksi internet yang selama ini kita nikmati secara wireless di smartphone, atau yang didapatkan dari WiFi, ternyata bukan ditransmisikan antar kawasan atau negara via udara seperti yang mungkin dibayangkan.

Koneksi nirkabel tersebut sejatinya berasal dari data yang ditransmisikan lewat kabel bawah laut itu.

Dari situ, jaringan kabel bawah tanah ini akan mentransmisikan data terlebih dahulu ke menara penerima sinyal (cell tower) atau base transceiver station (BTS) terdekat.

Setelah itu, data akan kembali ditransmisikan dan disebarkan ke perangkat wireless yang meminta koneksi internet.

Bakal "mampir" ke darat

Tak selamanya di bawah laut, aneka kabel ini bakal dinaikkan ke permukaan dan "mampir" pada satu titik di suatu kawasan atau negara. Titik ini biasa dijuluki dengan landing points.

Kabel bawah laut AAG sendiri, yang panjangnya mencapai 20.000 km, memiliki sejumlah landing points yang berada di luar wilayah Indonesia dan memiliki kapasitas transmisi data maksimum hingga 1,92 TB per detik.

Lantas, apakah kabel bawah laut AAG yang diperbaiki bisa memengaruhi layanan internet di Indonesia?

Indonesia andalkan AAG?

Johar Alam Rangkuti, Chairman Internet Data Center (IDC) Indonesia mengatakan bahwa sekitar 90 persen trafik internet di Indonesia masih mengandalkan kabel bawah laut SeaMeWe-3, bukan AAG.

Sehingga, pemerliharaan kemarin seharusnya tidak begitu berpengaruh terhadap layanan internet di Indonesia.

Adapun kabel bawah laut AAG, lanjut Johar, belum aktif dipakai untuk mentransmisikan layanan internet di Indonesia, meski PT Telkom Indonesia dan PT Indosat Tbk merupakan anggota konsorsium AAG.

"AAG sebenarnya belum aktif di Indonesia, 90 persen trafik kita masih menggunakan SeaMeWe-3," jelas Johar ketika dihubungi KompasTekno, Selasa (30/9/2020) lalu.

SeaMeWe-3 sendiri diketahui merupakan kabel optik bawah laut yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa Barat yang pembangunannya diketuai oleh France Telecom dan China Telecom, serta diadministrasikan oleh Singtel.

Menurut Johar, AAG belum diberdayakan di Indonesia karena masih terkendala sistem administrasi dan teknis.

Penulis: Bill Clinten | Editor: Reska K. Nistanto

Sumber: tekno.kompas.com

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


Category


Top Articles

Bisnis penyewaan menara telko masih menjanjikan

by: Administrator | 11 February 2018

Melihat Kembali Geliat Adopsi 5G di Indonesia

by: Administrator | 11 December 2018

Steve Jobs APPLE

by: Administrator | 07 August 2017

Mengintip Strategi XL Kembangkan IoT untuk Industri 4.0

by: Administrator | 05 December 2018

Five Companies Using AI to Fight Coronavirus

by: Administrator | 20 March 2020

Kisah Startup yang Mengubah Sistem Pembayaran di Dubai

by: Administrator | 30 January 2020

Ambisi Telkomsel Boyong 5G di Ibu Kota Negara Baru

by: Administrator | 27 September 2019

Implementasi 5G di Indonesia

by: Administrator | 03 September 2019

New Articles

Tantangan Indonesia Gelar 5G Tahun 2021

by: Administrator | 28 December 2020

Persiapan 5G di Indonesia Kominfo Lelang Frekuensi

by: Administrator | 23 November 2020

Beasiswa Rp 8 Miliar Sekolah Data Science

by: Administrator | 08 August 2020

Alasan Pemerintah Kepincut Lagi Balon Internet Google

by: Administrator | 08 August 2020

Indonesia Kembali Kepincut Balon Internet Google

by: Administrator | 08 August 2020

Five Companies Using AI to Fight Coronavirus

by: Administrator | 20 March 2020

Kisah Startup yang Mengubah Sistem Pembayaran di Dubai

by: Administrator | 30 January 2020